Teknologi Budidaya Jagung Hibrida
Jagung hibrida mempunyai potensi hasil yang tinggi. Potensi hasil tersebut dapat dimaksimalkan apabila selama budidayanya kita dapat memberikan lingkungan produksi yang optimal bagi tumbuh kembangnya tanaman. Oleh karena itu jagung hibrida memerlukan komponen teknlogi produksi yang optimal yang perlu kita persiapkan sebelum kita menngusahakan jagung hibrida.
Pada saat ini Indonesia sudah mampu memproduksi benih jagung hibrida dengan produksi yang tidak kalah dengan benih jagung hibrida impor. Benih-benih jagung hibrida dalam negeri ini sebagian besar diprosuksi oleh Balai Penelitian Sereal (BALLITSEREAL) Maros. Jenisnya anatara lain Bima 1 sampai Bima 11.
Komponen Teknologi Produksi.
Benih. Benih yang diperlukan sebanyak 20 kg per hektar dengan daya kecambah minimal 90%.
Penyiapan lahan. Lahan diolah dengan bajak dan garu. Lahan bisa juga tanpa olah tanah sempurna apabila lahan termasuk lahan yang gembur.
Tanam. Buat lubang tanam dengan tugal sedalam 5 cm dengan jarak tanam 75 cm x 40 cm masing-masing 2 biji per lubang tanam atau dengan jarak tanam 75 cm x 20 cm dengan jumla biji 1 biji per lubang tanam. Benih dimasukan ke dalam lubang tanam dan tutup tipis dengan tanah atau pupuk kandang.
Pemupukan. Takaran pupuk yang dianjurkan untuk jagung hibrida ini adalah 450 kg Urea per hektar, 100 – 150 kg SP 36 per hektar dan 50 – 100 kg KCl per hektar. Pemupukan dilakukan secara bertahap,Tahap I 7-10 hari setekllah tanam (HST) dengan pupuk yang diberikan 150 kg Urea dan TSP dan KCl seluruhnya diberikan. Sedangkan pemupukan kedua dilakukan pada 30 – 35 HST dengan pupuk yang diberikan hanya 300 kg Urea per hektar. Pemupukan dilakukan pada lubang atau larikan kurang lebih 10 cm di samping tanaman dan ditutup dengan tanah.
Penyiangan. Penyiangan dilakukan pada saat tanaman berumur 15 hari setelah tanam (HST). Penyiangan kedua dilakukan pada saat tanaman berumur 28 – 30 hari setelah tanam (HST) pada saat sebelum dilakukan pemupukan kedua.
Pengendalian OPT. Organisme pengganggu tanaman (OPT) perlu dikendalikan agar tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Pengendalian hama pengerek dikendalikan dengan pemberian insektisida Furadan 3G melalui pucuk tanaman dengan takaran 3-4 butir Furadan 3G per pucuk tanaman. Sedangkan penyakit bulai yang biasa menyerang dikendalikan dengan perlakuan benih. Sebelum benih ditanam dicampur dulu dengan Ridomil atau Saromil. Ridomil atau saromil sebanyak 2 gram per kilogram benih jagung dilaritkan dulu dalam air 7,5 – 10 ml.
Irigasi. Pemberian air atau irigasi dilakukan pada saat musim kemarau. Pemberian air dilakukan sebelum tanam, 15 hari setelah tanam (HST), 30 hari setelah tanam (HST), 45 hari setelah tanam (HST), 60 hari setelah tanam (HST), dan 75 hari setelah tanam (HST).
Panen. Jagung sudah dapat dipanen jika klobot atau kulit jagung sudah mengering dan berwarna coklat muda,dengan biji mengkilap dan bila ditekan dengan kuku tidak membekas. (Bahan : BALLITSEREAL Maros).
Tulisan yang relevan :
- Perkembangan Jagung Hibrida Badan Litbang Pertanian
- Teknologi Budidaya Tanaman Tomat
- Teknologi Produksi Budidaya Singkong
- Peluang usaha budidaya cabe
- Budidaya Kedelai Jepang Edamame
Comments (2)






dibandingkan dengan harga gabah telah mencapai 4000/kg idealnya harga jagung seharusnya juga sama dengan gabah. karena tonase yang dihasilkan dan lama panen perhektarnya sama.bila ini berlangsung terus maka petani jagung akan beralih ke tanaman lain. masuknya jagung impor ke pabrik pakan membuat pabrik pakan tidak mau membeli jagung lokal dengan alasan jumlah jagung lokal sedikit akibat kemarau panjang beberapa bulan kemarin sehingga membuat biaya operasional mesin pengering mahal.akibatnya luar biasa petani bingung mau dijual kemana hasil panennya karena pabrik-pabrik besar tutup dan harga terus ditekan oleh para pengumpul karena keterbatasan modal. ini potret nyata hasil pertanian indonesia “untuk apa panen melimpah kalau hasil panennya tidak diminati pabrik lokal”
[...] Pengendalian Hawar Daun Bakteri (HDB) Dengan teknik budidaya. [...]